Tuesday, October 11, 2016

SBT OWOP II Romance-Angst Chapter 6: Permulaan

Ini adalah kelanjutan Story Blog Tour OWOP II Romance/Angst. Walaupun...ini kerasa nggak sih romance/angst nya? Hahaha.... Ya udahlah....

Buat yang mau baca dari awal, silakan dicek di sini:

Chapter 1: Luka Elisa (Nifa)
Chapter 2: Self Harm (Asti)
Chapter 3: Friendzone (Dini)
Chapter 4: Dua Sisi Koin (Nana)
Chapter 5: Teman Baru (Zu)

Silakan baca lanjutannya!
______________________

Chapter 6: Permulaan


Sudah beberapa hari ini Elisa selalu mendapatkan SMS berisi ajakan untuk bergabung di sebuah forum yang bernama Young Blood. Awalnya ia kira itu hanyalah salah satu dari sekian banyak SMS promo yang akhir-akhir ini sedang marak, tetapi biasanya SMS promo tidak pernah mengirimkan promonya setiap hari. Dan, sejujurnya ia agak takut. Isi SMS itu seolah mengetahui tentang kebiasaannya. Seingatnya, ia tak pernah menceritakan tentang itu pada siapa pun, kecuali Tezar. Selain itu, hanya Bibi yang tahu bahwa ia suka melukai lengannya—terkadang paha. Lalu belum lama ini … mamanya.

Mama yang selama ini tak pernah peduli padanya, tahu-tahu menyadari bekas luka di tangannya.

“Maafkan Mama, Elisa… Mama nggak tahu kamu sampai begini. Maaf ya….” Mama menangis saat itu, memeluk Elisa. Elisa tak urung ikut menangis. Akhirnya, Mama menyadari kepedihannya. “Mama akan berusaha nggak berantem lagi sama Papa, tapi kamu jangan ngelakuin kayak gini lagi ya?” pintanya.

Berbekal dukungan Mama dan Tezar, Elisa berhenti melakukan cutting. Sulit, karena cutting sudah bagaikan candu baginya. Ada masalah sedikit, ia terbiasa melewatinya dengan cutting, karenanya sangat sulit untuk meninggalkannya. Tetapi, pelan-pelan ia bisa. Hingga beberapa hari lalu…

Elisa menggeleng. Ia tidak boleh jatuh lagi. Masih ada Tezar yang selalu mendukungnya.

Ditatapnya kembali SMS yang masuk ke ponselnya. Young Blood… Mungkin tidak ada salahnya ia mengecek forum itu. Hanya penasaran saja.

*

Hampir sejam lamanya Elisa asyik menyusuri forum Young Blood. Forum itu beranggotakan orang-orang sepertinya, orang-orang yang ‘berbeda’ dengan orang kebanyakan. Segera saja ia menemukan subforum self harm di dalamnya dan mendapati ‘teman-teman’nya. Kebanyakan di antara mereka menggunakan forum itu untuk curhat tentang masalah mereka, terkadang disertai cara mereka menghadapinya—cutting, mencakar atau memukul diri sendiri, minum racun, dan lain-lain. Beberapa orang yang lebih gila bahkan merekam saat mereka melakukan itu.

Bagaimana pengalaman pertamamu dengan self harm?

Elisa membuka thread itu. Di dalamnya menceritakan tentang bagaimana para anggota bisa mengenal self harm dan melakukannya untuk pertama kali.

Selesai membaca setengahnya, tahu-tahu Elisa sudah mengetik di kolom reply.

Hei, gue member baru di sini. Gue juga pengen cerita tentang pengalaman pertama gue.

Self harm yang gue lakuin itu…cutting. Waktu itu gue masih SMP, kalo nggak salah nggak lama setelah tahun ajaran baru. Gue nggak sengaja nemu video cutting di internet. Saat itu gue … kagum. Gue ngerasa takjub liat si pembuat video berani banget nyilet-nyilet tangannya. Apalagi dia bilang nggak sakit dan malah kerasa nikmat, kayak pake narkoba.

Tadinya gue nggak berniat ikut-ikutan cutting, tapi tau-tau nyokap bokap gue berantem lagi. Gue kabur ke kamar mandi biar suara-suara mereka nggak kedengeran, tapi ternyata masih kedengeran juga. Waktu itu, kebetulan gue liat ada pencukur kumis punya bokap gue, bekas dia pake waktu numpang di kamar mandi gue gara-gara berantem sama nyokap. Gue tau di dalemnya ada silet, dan tau-tau aja gue udah ngambil silet itu.
Pertama kali gue nyoba…sakit! Tapi nggak seberapa. Sakitnya malah bikin gue nggak peduli sama suara-suara di luar. Sejak saat itu gue suka ngelakuin cutting….

*

“Zar! Elisa apa kabar?” Alya menyapa Tezar yang hendak memarkir motornya.

“Hm? Baik....” jawab Tezar meski tidak yakin. “Kenapa lo tiba-tiba nanyain dia?”

Alya mengikuti Tezar masuk ke teras rumah lelaki itu. “Nggak apa-apa. Kemaren gue ketemu sama dia di toilet sekolah. Kayaknya sedih gitu. Gue sapa aja,” jawabnya.

“Oh ya? Terus dia bilang apa?” Tezar menunjukkan wajah tertarik. Dalam hati, Alya merutuk. Kalau tentang Elisa, Tezar pasti langsung tertarik.

“Rahasia~ Hehehehe….” Alya tertawa manis. “Tapi gue jadi temenan sama dia. Seneng banget!”

Tezar tersenyum, “Kok lo seneng banget temenan sama dia?”

“Abisnya lo nempel terus sama dia. Kan gue jadi penasaran, pengen temenan juga sama dia. Tapi selama ini lo monopoli dia terus,” Alya mengerucutkan bibirnya, “Tapi sekarang gue bisa temenan sama dia. Jadi siap-siap aja lo jadi kambing congek ya~” Ia kini memeletkan lidah.

Tezar tertawa, membuat Alya tersenyum sangat lebar. Senyum tulusnya yang pertama hari ini. Rasanya sudah lama Tezar tidak tertawa seperti ini padanya.

“Kok gue yang jadi kambing congek? Bukannya harusnya lo yang siap-siap?” kata Tezar.

“Nggaklah. Walaupun kalian deket, gue sama Elisa kan cewek. Cewek pasti lebih paham cewek lainnya,” jawab Alya.

Senyum Tezar kembali mengembang. Sejauh yang ia tahu, Alya anak baik dan ramah. Meski agak tidak rela ‘membagi’ Elisa, ia rasa Elisa akan jauh lebih baik jika punya teman lain.

“Thanks ya, Al. Gue harap kalian bisa jadi temen baik. Eh, lo mau mampir dulu? Gue inget kemaren abis beli puding, masih ada sisanya.”

Alya melongo mendengar tawaran Tezar. Selama ini selalu ia yang mencari-cari alas an ke rumah Tezar, sekarang tahu-tahu Tezar jadi sangat manis padanya. Dan ini cuma karena dia bilang mau berteman dengan Elisa? Kalau saja ia tahu reaksi Tezar seperti ini, sudah sejak dulu ia lakukan.

“Mau dong~ Sekalian gue masakin makan malem ya?” tawarnya.

“Eh, nggak usah,” Tezar membuka pintu rumah dan masuk lebih dulu. “Lo cukup makan puding aja.”


Di balik punggung Tezar, Alya tersenyum miring.


Bersambung....

Cerita selanjutnya akan dilanjutkan oleh Nadita. Tunggu link setelah update ya ^^

No comments:

Post a Comment